Tags:
Bali
Black and White
Indonesia
Patra Beach
photograph
art
sun
()
Beberapa minggu (atau mungkin sudah hampir beberapa bulan) ke belakang, linimasa twitter saya kembali menjadi rak tulisan, yang kebanyakan isinya mengandung “FPI” dan “JIL”. Kaget? Nope, biasa saja. Tapi ada beberapa pertanyaan yang tiap kali muncul di otak saya, intinya cuma satu : Ada apa sebenarnya sama negeri saya?
Beberapa orang yang saya follow adalah mereka yang anti-dengan-kekerasan-dan-penindasan-terhadap-kaum-minoritas-apapun-alasannya. Karena memang saya juga percaya dan mendukung hal itu, yaaa, jadi saya suka-suka saja melihat mereka bertebaran di linimasa saya. :)
Sebagai salah seorang dari kaum minoritas (yang belakangan ini pembangunan gedung ibadahnya seringkali di-‘interupsi’), saya cukup sedih menemukan kenyataan bahwa di negara yang (katanya) Bhineka Tunggal Ika ini, masih sulit hidup bertoleransi. Meskipun hanya beberapa kelompok (yang mengatasnamakan agama) yang menyebabkan kericuhan (melakukan tindak anarkistis, vandalisme, dsb.), ada kemungkinan untuk orang-orang awam mengambil kesimpulan untuk memeratakan pandangannya terhadap tiap individual dari kaum agama tersebut. Dan bukan sesuatu yang tidak mungkin, ketika hal itu terjadi pada kebanyakan orang, mereka akan saling membenci, menuduh, memfitnah, dan lain-lain.
Saya, jujur saja bukan tipe orang yang demikian. Untungnya, demikian. Karena semenjak kecil, orangtua saya mengajarkan untuk mengasihi sesama. Pedoman mereka? Ya kitab suci agama saya.
”..Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Untuk saya, kutipan di atas sudah secara ‘spesifik’ mengatakan kepada siapa kita harus mengasihi. Sesama kita manusia. Kalimat di atas adalah salah satu bagian dari Hukum Kasih (seringkali kami menyebutnya demikian) yang diajarkan kepada kami. Dan saya tetap berpegang pada pedoman itu untuk mengingat bahwa saya hidup tidak sendiri, dan dunia ini diciptakan untuk berbagi.
Sebagaimana saya mengasihi diri saya sendiri, demikianlah saya selalu berusaha mengasihi orang di sekitar saya. Siapapun mereka. <3
P.S. : Jadi, kalau memang butuh sedikit (atau mungkin juga banyak) perlawanan untuk menjadikan semua kaum, kalangan, golongan, atau apapun namanya dianggap sama, yaaa saya sih pasti akan ikut. :)