Sayangku padamu sejauh seberani kau menarik halaman-halaman ini lebih jauh. Selamat membuka.
~ Monday, July 28 ~
Permalink
Radu. A name I chose for my homunculus.

Radu. A name I chose for my homunculus.

Tags: homunculus name
 ()
~ Sunday, July 27 ~
Permalink

Bersyukurlah karena masih tinggal di negara ini.
Bersyukurlah karena negara ini punya banyak perbedaan.
Bersyukurlah karena perbedaan itu menjadikan kita satu.


Selamat Hari Idul Fitri 1435 H. Tuhan berkati kita semua.

Tags: idulfitri
 ()
~ Friday, July 25 ~
Permalink
did-you-kno:

The Marlboro Man died of lung cancer.  His famous last words were, “take care of the children.  Tobacco will kill you.  I’m living proof of it.”
Source

He is proof of it.

did-you-kno:

The Marlboro Man died of lung cancer.  His famous last words were, “take care of the children.  Tobacco will kill you.  I’m living proof of it.”

Source

He is proof of it.


5,080 notes  ()
reblogged via did-you-kno
~ Tuesday, July 8 ~
Permalink

SELAMAT BERPESTA

Seumur hidup saya, saya gak pernah mengerti arti pemilu yang sesungguhnya. Semenjak SD diajar tentang itu di mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan saya rasa saya hanya mencernannya sekedar itu. Makin besar, saya bertanya-tanya: Namanya Pemilihan Umum. Oke, berarti umum berhak memilih. Semua WNI berhak memilih sesuai peraturan. Tapi yang dipilih siapa? Calon aparat negara? Calon pemimpin? Untuk apa? Kriterianya apa? Kenapa mereka? Dan… apa yang bisa mereka hasilkan nanti setelah dipilih? Sebelum banyak pertanyaan lain muncul, kalimat terakhir barusan adalah yang selalu tersirat saat mulai musiim subur kampanye partai dan calon pilihan.

Selama ini saya seorang pemudi yang tahu jenis perjuangan membela negara dan rasa nasionalisme dengan lewat halaman-halaman di buku sejarah, televisi, video, dan koran, yang selalu menceritakan perjuangan menuju kemerdekaan. Apapun itu bentuknya, dan kapanpun terjadinya. Yang pasti, jauh sebelum hari ini. Intinya saya pasif.

Mengapa?

Karena dulu saya pikir apa gunanya? Toh, Indonesia merdeka tetap seperti tidak merdeka. Pemilih yang sudah dipilih, kiprahnya membangun negara tidak pernah sesuai dengan janjinya saat kampanye. Omong kosong yang dijual dan membutuhkan banyak dana dibelakangnya itu berujung nihil.

Tapi tahun ini, 2014, tepatnya besok 9 Juli, saya tidak ingin menjadi pemudi pasif lagi. Satu suara saya berharga. Kertas yang saya coblos besok juga mengambil bagian dalam penentuan pemimpin negara selanjutnya. Ada alasan kuat untuk hal itu. Ada perasaan kuat yang timbul entah dari mana datangnya, yang menyuruh saya untuk ikut bersuara. BERSUARA UNTUK NEGARA.

Tahun ini berbeda

Baru sekarang saya rasakan gemuruh suara pemuda

Yang bangkit dari segala penjuru dunia

Mereka tidak sedang bercanda, atau sekedar iseng saja

Mereka kembali peduli pada negaranya

Siapapun pilihannya, kita sedang berjuang bersama

Nasib negara lusa, dua tahun lagi, dan seterusnya

Ada di tangan kita

Pemilik hak pilih berhak mengikuti hati nuraninya

Urusan satu atau dua itu terserah rakyat semua

Tapi ketika fakta berbicara

Saya tahu harus pilih yang mana

Nomor dua siap jadi punggung bangsa

Dan bila ia diberi kesempatan oleh-Nya,

saya siap jadi pemudi Indonesia

yang dengan bangga berkata,”Itu Presiden saya.

 

Selamat berpesta. Selamat merayakan hari lahirnya harapan baru di negaramu. Indonesia. 

Tags: salamduajari jokowiforpresident jokowi election indonesia pemudabangkit sahabatjokowi
 ()
~ Sunday, July 6 ~
Permalink
Good morning, you. Love the day. Because God didn’t expect you to hate one when He created all that. 💞

Good morning, you. Love the day. Because God didn’t expect you to hate one when He created all that. 💞

Tags: life quotes humans day love days god
1 note  ()
~ Wednesday, July 2 ~
Permalink
No more signs. Someone is too tired of giving it all the time, without getting one back.
— Self
Tags: love signs boys girls whatever tired givingup
2 notes  ()
Permalink
"Tell me you love me, if you don’t then lie to me."

True Love, Coldplay.

"Tell me you love me, if you don’t then lie to me."

True Love, Coldplay.

Tags: Coldplay song quote lovequote lyrics love lie
2 notes  ()
Permalink
"You won’t die wrong, if you die with the right one next to your soul."

— Self.

"You won’t die wrong, if you die with the right one next to your soul."

— Self.

Tags: quotes quoteoftheday lovequote love boys girls die life stars universe
 ()
Permalink

"I choose to be happy. I choose to be with you."

Kami berkenalan saat aku berumur 5 tahun, dan Tama 7 tahun. Aku tomboy waktu kecil, makanya bisa ketemu sama Tama. Dia tetangga yang sebenarnya tinggal agak jauh dari rumah. Waktu dulu ketemunya juga karena dia suka main bola plastik di taman kompleks. Aku nonton dan waktu itu mau ikutan, tapi dilarang sama teman-temannya. Cuma dia yang bolehin aku ikutan. Sejak itu kami berteman baik.

***

Hari ini ulang tahun Tama yang ke-23. Tapi aku gak bisa rayain ulang tahunnya bareng-bareng sama Tama, gak seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena sebelum semester ini selesai dan aku lulus, aku gak bisa pulang ke Bogor. Kata papa, “Nanti pas pulang sudah harus bergelar ya.” 

Lagipula, pulang dan membawa kado atau meniup lilin di depan Tama pun aku rasa gak bisa mengubah keadaannya. Sejak lulus kuliah, Tama hidup dalam nada datar; koma. Kecelakaan beruntun hampir merenggut nyawanya 2 tahun lalu. Aku orang pertama yang menemukan ketidaksadarannya di rumah sakit. Oh ya, melihat keadaannya seakan mencabik diri sendiri dengan silet berkarat. Karena kecelakaan itu terjadi saat ia sedang dalam perjalanan untuk menjemputku dan mengajakku ke suatu tempat—yang ia bilang kejutan. 

Hampir setiap hari aku menelpon Tama lewat telepon genggam tante Lona; mamanya, dan selalu berbicara sendiri. Bercerita apa yang kulakukan seharian, bertanya bagaimana keadaannya, bercerita tentang kenangan-kenangan lucu kami waktu kecil, dan menyuruhnya kembali ke dunia ini secepatnya dari tempat manapun ia berada. Kalau hari itu aku kuat, aku tidak akan menangis. Namun yang seringkali terjadi, sebaliknya. 

***

Hari ini sudah seminggu semenjak kelulusanku, dan besok aku akan pulang ke Bogor. Aku akan dijemput papa, mama, namun tanpa Tama. Ia biasa ikut menjengukku dulu saat masih kuliah, bersama papa-mama. Kami sering menghabiskan akhir minggu bersama bila semua tugasku sudah selesai. 

Semua foto masih terpajang dan tergantung rapih di dinding kamarku. Foto kami berdua. Kalau mau dihitung mungkin ada sekitar tiga puluh foto tercetak, dan sisanya tak terhitung. Aku dan Tama kebetulan menyukai fotografi. Hanya saja, Tama lebih suka nuansa hitam putih. Aku menyukai nuansa cerah dan ragam warna. Jadi kalau hasil fotonya monokrom, sudah tentu itu hasil jepretan Tama. Dan ia sudah lama tidak melakukannya. 

***

Sebelum membereskan kamar untuk perpindahanku ke Jakarta, aku mengumpulkan semua foto-foto di dinding. Ada 4 foto yang paling kusuka dari semua foto yang kukumpulkan. 

  1. Aku berumur sekitar 9 tahun mungkin. Saat itu aku baru potong rambut. Mama yang potong rambutku, jadilah poniku rata dan aneh. Padahal hari itu adalah beberapa hari menjelang ulang tahunku yang ke-10. Tama yang baru dibelikan ayahnya polaroid saat itu, mengambil mukaku yang sedang kesal menjadi bahan percobaan pertamanya dan berhasil. Sisa hari itu kami habiskan tertawa bersama sambil memandangi fotoku yang kata Tama seperti “kodok lagi pakai helm”.
  2. Tama baru selesai operasi usus buntu. Kalau tidak salah ia SMP kelas 2. Saat ia pulang ke rumah, aku dan segelintir keluarga terdekatnya menyambutnya di rumah. Sebelum makan siang, papa menyuruhku berfoto bersama Tama sambil bilang “cheeese!”. Tapi aku yang iseng malah berkata,”Tama jeleeeek!” maka jadilah foto yang sedemikan buat Tama bahagia setelah itu: rambutku menutupi setengah mukaku karena Tama menggurai rambutku dari belakang ke depan saking kesalnya. Di foto itu Tama tertawa lebar seakan tidak punya luka jahit baru di perutnya.
  3. Foto ini diambil Tama saat aku lulus SMA. Di foto itu aku sedang tertawa, dengan pakaian seragam yang sudah tercoret sana-sini. Rambutku agaknya sedikit berantakan karena kuingat betul bagaimana Tama mengacak-acak rambutku tepat sebelum foto itu diambil. Tanganku yang satu memegang teddy bear kecil pemberiannya, dan satu lagi melambai ke kamera seakan memberi isyarat ‘belum siap untuk difoto’.
  4. Diambil saat aku ulang tahun ke 18. Entah kenapa, tapi kata orang-orang, di foto itu aku terlihat cantik. Padahal aku tidak sama sekali dalam pose yang anggun atau menarik. Foto ini diambil sekitar pukul delapan pagi, saat aku baru buka mata. Rambutku sedikit berantakan, terduduk diam, menunduk. Aku sedang berdoa. Hampir membentuk siluet yang sempurna. 

Aku ingat betul siapa yang mengambilnya. Tama. Ia saat itu duduk di kursi meja belajar kamar kosanku, di sebelahnya ada papa dan mama. Foto itu ia ambil setelah menyuruhku berdoa dan memberikan kecupan manis sebagai hadiah ulang tahun. 

Aku meminta kepada Tama agar foto itu dicetak. Seminggu kemudian tukang pos mengantarkan sebuah amplop yang berisi foto ini dan sebuah coretan kecil di belakang foto itu: "I choose to be happy. I choose to be with you."

Foto itu adalah foto yang kutahu jadi foto terakhir yang diambil Tama sebelum mimpi buruk itu menimpanya.

***

Hari ini aku akan mengunjungi rumah sakit dan melihat keadaan Tama. Karena besok adalah hari pencabutan alat pemacu jantungnya. Keluarga Tama sudah memutuskan. Bukan karena mereka tidak percaya bahwa Tama akan bertahan. Namun karena mereka sayang Tama. Menyakitkan melihat keadaanya yang terus dibantu peralatan yang dibuat manusia. Kalau memang Tuhan mengijinkan Tama hidup lebih lama, Tuhan akan menjadikannya demikian. 

Dalam perjalananku menuju rumah sakit, aku terus memandangi keempat foto yang selalu kubawa dalam tas semenjak kepulanganku. Aku ingin Tuhan menyelamatkan kenangan-kenangan itu dan menjadikannya kembali hidup dengan kembalinya Tama. Tapi akhirnya aku menyerahkan semuanya pada Yang Empunya. 

***

Di samping Tama, aku mengeluarkan keempat foto itu dari tasku lalu menjejerkan 3 foto pertama di atas meja kecil samping tempat tidur Tama. Yang satu, kugenggam lalu kuselipkan bersamaan ke jari-jari tangan Tama. Sebelum semakin larut dalam kepedihan dan ketakutan yang memelukku, aku  berbisik pelan di telinganya,"No matter what happens to you, no matter what life gonna takes you to, i always choose to be with you. From the beginning. Because i choose to be happy."

Tak lama, air mata keluar dari mata Tama. Pertanda apapun itu, aku sedang menantikan keajaiban tangan Yang Maha Segala. 

Tags: short story love cerpen cinta
3 notes  ()
Permalink
You won’t die wrong, if you die with the right one next to your soul.
— Gerardine
Tags: love love quotes die girls boys exist life
2 notes  ()